Ulama
asal kediri yang buah karyanya diakui ulama – ulama internasional sebut saja
kitab yang saat ini di bajak oleh penerbit Darul Imayah Beirut berjudul”
Sirajut Thalibin” , Kitab tersebut kini banyak beredar di Indonesia namun entah
salah cetak atau sengaja dicantumkan pengarang tersebut Syech Zaini dahlan
padahal harusnya adalah Syech Ihsan Muhammad Dahlan dari Jempes kediri. Saya
tidak habis pikir Penerbit t Darul Imayah di Beirut merupakan perusahaan
penerbitan yang telah masyhur bisa salah cetak dan menurut saya ada unsur
kesengajaan untuk membajak buah karya ulama Kediri tersebut , karena kata
pengantar /Taqridah dari KH.Hasyim Asy’ari dalam kitab asli tersebut di buang dan
di ganti dengan Biografi Syech Zaini Dahlan ( ulama timur tengah ). Kitab
Sirajut Thalibin adalah syarah atau penjabaran dari kitab Minhajul Abidin karya
Imam Ghazali. Sirajut Thalibin ini sempat mendapatkan pujian luas dari ulama
Timur Tengah dan kini menjadi referensi utama para mahasiswa di Mesir dan
negara-negara Timur Tengah yang lain , kitab ini juga dikaji di beberapa
majelis taklim kaum muslimin di Afrika dan Amerika. Siapa sebetulnya Syech
Ihsan Jampes tersebut?? KH.Ihsan Dahlan Jampes adalah Putra dari seorang ulama
yang sejak kecil tinggal dilingkungan Pesantren terkenal nakal, orang memanggil
dengan sebutan “Bakri” lahir sekitar tahun 1901 di desa Jampes Kediri jawa
timur. Ayahnya bernama Kh.Dahlan . Kegeramaran Syech Ihsan remaja adalah nonton
wayang sambil ditemani kopi dan rokok dan yang membuat khawatir keluarganya
adalah kegemaran bermain judi. Bakri julukan Syech ihsan kecil sangat mahir
bermain judi , sudah beberapa kali ayahnya menasehatinya agar berhenti
melakukan perbuatan buruk tersebut , namun kebiasaan putranya tersebut belum
juga berubah masih saja gemar bermain Judi . hingga suatu hari Ayahnya Bakri
Kh.Dahlan mengajaknya berziarah ke makam seorang ulama bernama Kh Yahuda yang
juga masih ada hubungan kerabat dengan ayahnya, disana ayahnya bermunajat
kepada Alloh agar putranya sadar dan insyaf dan memohon kepada alloh kalau saja
putranya masih saja seperti itu agar di beri umur pendek agar tidak membawa
mudharat bagi umat. Selepas ziarah tersebut suatu malam Syech Ihsan bermimpi di
datangi oleh seorang berwujud kakek sedang membawa sebuah batu yang sangat
besar yang siap di lemparkan ke kepala Syech Ihsan sambil berkata ” Hai cucu ku
kalau engkau tidak menghentikan kebiasaan burukmu yang suka berjudi, aku akan
lemparkan Batu besar ini ke pala mu” kata Kakek tersebut. ” Apa hubungannya
kakek dengan ku..? mau berhenti atau terus bukan urusan kakek ” Timpal Syech
Ihsan. Tiba tiba Sang kakek tersebut melempar batu besar tersebut ke kepala
Syech Ihsan….hingga pecah kepalanya…Saat itu Syech Ihsan terbangun dari
tidurnnya sambil mulutnya mengucapkan istighfar”‘ Astaghfirlulloh…..apa yang
sedang terjadi kepadaku….Ya Alloh….ampuni dosaku….. Sejak saat itu Syech Ihsan
menghentikan kebiasaannya bermain judi dan mulai gemar menimba ilmu dari satu pesantren
ke pesantren lainnya di pulau Jawa . Mengambil berkah dan restu dari para ulama
ulama di jawa seperti Kh.Saleh darat, Kh.Hasyim Asyari dan Kh Muhammad Kholil
Madura. Setelah sekian lama merlakukan pengembaraan dalam menuntut ilmu sekitah
tahun 1932 Syech Ihsan mulai menetap dan mengajar . Hari hari beliau gunakan
untuk mengajar dan menulis Kitab sambil di temani Kopi dan rokok yang menjadi
ciri khasnya, begitu banyak karya karya beliau yang di akui oleh para ulama
ulama nusantara dan internasional, KItab Siraj al-Thalibin, yang ditulis
sekitar 1932-33 sebagai syarah atas karya Al-Ghazali, yang sangat dalam
membahas persoalan-persoalan tasawuf dan kitab tersebut dibuat kata pengantar
langsung dari Kh.Hasyim Asyari tebuireng Jombang . Model thasawuf yang di bahas
dalam kitab tersebut menawarkan Konsep Thawasuf masa kini Misalnya ajaran
tentang konsep uzlah yang secara umum diartikan sebagai pengasingan diri dalam
kesunyian duniawi, oleh Syekh Ihsan dalam kitab tersebut dimaknai sebagai
pengasingan diri dalam kehidupan bersama masyarakat yang majemuk. Uzlah bukan
lagi menyepi, tapi bagaimana hidup dalam masyarakat majemuk. Inilah yang
disebut sebagai tasawuf hadzaz zaman (tasawuf zaman ini) . KOnsef zuhud
diartikan sebagai tapa dunia atau menghindari harta benda. Syekh Ihsan
mengajarkan bahwa orang yang zuhud sebenarnya adalah mereka yang dikejar harta,
namun tak merasa memiliki harta itu sama sekali. ”Jadi zuhud adalah tapa dunia
tapi malah kaya. Nah kalau sudah kaya lantas mencari jalan yang terbaik dalam
menafkahkan hartanya itu. Inilah ajaran Sirajut Thalibin. Bahkan Syech Ihsan
sendiri adalah Ulama yang kaya raya,” Satu lagi pelajaran dari Sirajut Thalibin
adalah soal syukur, atau berterimakasih atas semua karunia dari Allah SWT. Kata
Syekh Ihsan dalam juz dua kitab Sirajut Thalibin, doa yang paling tinggi adalah
kalimat Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah. Tebalnya Kitab tersebut nyaris
seribu halaman, dibagi dalam dua juz. Sebelumnya, pada 1930 Syech Ihsan sudah
menulis sebuah kitab di bidang Ilmu Falak berjudul Tashrih al-Ibarat yang
merupakan syarah atas Natijat al-Miqat karya KH Ahmad Dahlan Semarang. Karya
lainnya yang unik adalah Kitab “Irsyadu Al ikhwan Fi bayani al hukmu Al Qohwa
wad Dukhon ” terinspirasi karena kegeramarannya Syech Ihsan yang suka Kopi
dengan Rokok. Walaupun Syech Ihsan tidak pernah belajar di Mekkah namun
kemampuan bahasa Arab dan keterampilannya dalam menulis kitab berbahasa Arab
sangat luar biasa dan ada sebuah karya Syech Ihsan yang menjadi manuskrip yang
tersimpan di Perpustakaan Kairoh selama bertahun tahun berjudul ” Manahijul
Imdad” merupakan syarah (komentar) dari kitab Irsyadul Ibad (petunjuk bagi para
hamba) karya Syekh Zainuddin Malibari ( lombok ) . Kitab setebal 118 halaman
itu diulas kembali oleh Syech Ihsan dalam kitab setebal 1050 halaman yang
terdiri dari dua juz. Kitab ini berada dalam jalur kajian fikih namun berbeda
dengan kitab fikih formal lainnya sebab lebih condong ke ajaran tasawuf dan
pada bab-bab tertentu banyak menunjukkan fadhilah-fadhilah (keutamaan)
melakukan ibadah. Manuskrip kitab yang tersimpan di perpustakaan Kairo akhirnya
di minta oleh pihak keluarga dan diterbitkan oleh salah seorang murid beliau
yang tinggal di semarang. Pada tanggal 15 September 1952 Syech Ihsan Dahlan
dipanggil oleh Alloh swt dengan meninggalkan karya karya tulis dan kitab yang
saat ini menjadi rujukan para ulama ulama baik nusantara maupun internasional.
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
KH. Ihsan Muhammad Dahlan
Ditulis Oleh Unknown on Sabtu, 08 November 2014 | 09.05
KH Kholil Bangkalan Madura
Hari Selasa tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H
atau 27 Januari 1820 M, Abdul Lathif seorang Kyai di Kampung Senenan, Desa
Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, ujung Barat Pulau Madura,
Jawa Timur, merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari
rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama
Muhammad Kholil, yang kelak akan terkenal dengan nama Mbah Kholil.
KH. Abdul Lathif sangat berharap agar anaknya di kemudian
hari menjadi pemimpin umat, sebagaimana nenek moyangnya. Seusai mengadzani
telinga kanan dan mengiqamati telinga kiri sang bayi, KH. Abdul Lathif memohon
kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya.
Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH.
Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah Abdul
Lathif adalah Kyai Hamim, anak dari Kyai Abdul Karim. Yang disebut terakhir ini
adalah anak dari Kyai Muharram bin Kyai Asror Karomah bin Kyai Abdullah bin
Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati. Maka tak salah
kalau KH. Abdul Lathif mendambakan anaknya kelak bisa mengikuti jejak Sunan
Gunung Jati karena memang dia masih terhitung keturunannya.
Oleh ayahnya, ia dididik dengan sangat ketat. Mbah Kholil
kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama
ilmu Fiqh dan nahwu, sangat luar biasa. Bahkan ia sudah hafal dengan baik
Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda. Untuk
memenuhi harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya,
maka orang tua Mbah Kholil kecil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk
menimba ilmu.
Belajar ke Pesantren
Mengawali pengembaraannya, sekitar tahun 1850-an, ketika
usianya menjelang tiga puluh, Mbah Kholil muda belajar kepada Kyai Muhammad Nur
di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke
Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok Pesantren
Keboncandi. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada
Kyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kyai Nur
Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya.
Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri sekitar 7 Kilometer.
Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Mbah Kholil muda rela melakoni perjalanan yang
terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiap perjalanannya dari
Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surah Yasin. Ini
dilakukannya hingga ia -dalam perjalanannya itu- khatam berkali-kali.
Orang yang Mandiri
Sebenarnya, bisa saja Mbah Kholil muda tinggal di Sidogiri
selama nyantri kepada Kyai Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi
dia untuk tetap tinggal di Keboncandi, meskipun Mbah Kholil muda sebenarnya
berasal dari keluarga yang dari segi perekonomiannya cukup berada. Ini bisa
ditelisik dari hasil yang diperoleh ayahnya dalam bertani.
Akan tetapi, Mbah Kholil muda tetap saja menjadi orang yang
mandiri dan tidak mau merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di
Sidogiri, Mbah Kholil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh
batik. Dari hasil menjadi buruh batik itulah dia memenuhi kebutuhannya
sehari-hari.
Sewaktu menjadi Santri Mbah Kholil telah menghafal beberapa
matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Disamping itu
beliau juga seorang Hafidz Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam
Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).
Ke Mekkah
Kemandirian Mbah Kholil muda juga nampak ketika ia
berkeinginan untuk menimba ilmu ke Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke
Mekkah merupakan cita-cita semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali
ini, lagi-lagi Mbah Kholil muda tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi
meminta ongkos kepada kedua orangtuanya.
Kemudian, setelah Mbah Kholil memutar otak untuk mencari
jalan kluarnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di
Banyuwangi. Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang
cukup luas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Mbah Kholil nyambi menjadi
“buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah
2,5 sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan,
Mbah Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan
pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya. Dari situlah
Mbah Kholil bisa makan gratis.
Akhirnya, pada tahun 1859 M, saat usianya mencapai 24 tahun,
Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Tetapi sebelum berangkat, Mbah
Kholil menikah dahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih.
Setelah menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang
benar, untuk ongkos pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama
nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Mbah
Kholil berpuasa. Hal tersebut dilakukan Mbah Kholil bukan dalam rangka
menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar
perjalanannya selamat.
Pada tahun 1276 H/1859 M, Mbah Kholil Belajar di Mekkah. Di
Mekkah Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama
Indonesia dari Banten). Diantara gurunya di Mekkah ialah Syeikh Utsman bin
Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad
Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad
hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin
Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).
Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu
itu untuk menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Mbah Kholil belajar pada para
Syeikh dari berbagai madzhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun
kecenderungannya untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat disembunyikan.
Karena itu, tak heran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para
Syeikh yang bermadzhab Syafi’i.
Konon, selama di Mekkah, Mbah Kholil lebih banyak makan
kulit buah semangka ketimbang makanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi
teman-temannya, cukup mengherankan. Teman seangkatan Mbah Kholil antara lain:
Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syeikh
Muhammad Yasin Al-Fadani. Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan dan
sikap keprihatinan temannya itu.
Kebiasaan memakan kulit buah semangka kemungkinan besar
dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah seorang ulama
yang dikagumi dan menjadi panutannya.
Mbah Kholil sewaktu belajar di Mekkah seangkatan dengan KH.
Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Muhammad Dahlan. Namum Ulama-ulama
dahulu punya kebiasaan memanggil Guru sesama rekannya, dan Mbah Kholil yang
dituakan dan dimuliakan di antara mereka.
Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab
yang diperlukan oleh para pelajar. Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul
ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi Al-Bantani, Mbah Kholil dan
Syeikh Shaleh As-Samarani (Semarang) menyusun kaidah penulisan Huruf Pegon.
Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa,
Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan
untuk penulisan bahasa Melayu.
Mbah Kholil cukup lama belajar di beberapa pondok pesantren
di Jawa dan Mekkah. Maka sewaktu pulang dari Mekkah, beliau terkenal sebagai
ahli/pakar nahwu, fiqh, tarekat dan ilmu-ilmu lainnya. Untuk mengembangkan
pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Mbah Kholil selanjutnya
mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat
Laut dari desa kelahirannya.
Kembali ke Tanah Air
Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai
tahun kepulangannya), Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan
Tarekat. Bahkan pada akhirnya, dia pun dikenal sebagai salah seorang Kyai yang
dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz
(hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Mbah Kholil dapat mendirikan sebuah
pesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer Barat Laut dari desa
kelahirannya.
Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa
sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan
keponakannya sendiri, yaitu Kyai Muntaha; pesantren di Desa Cengkubuan itu
kemudian diserahkan kepada menantunya. Mbah Kholil sendiri mendirikan pesantren
lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah
Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanya
selang 1 Kilometer dari Pesantren lama dan desa kelahirannya.
Di tempat yang baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh
santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang
Pulau Jawa. Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim
Asy’ari, dari Jombang.
Di sisi lain, Mbah Kholil disamping dikenal sebagai ahli
Fiqh dan ilmu Alat (nahwu dan sharaf), ia juga dikenal sebagai orang yang
“waskita,” weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal
yang terakhir ini, nama Mbah Kholil lebih dikenal.
Geo Sosio Politika
Pada masa hidup Mbah Kholil, terjadi sebuah penyebaran
Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah di daerah Madura. Mbah Kholil sendiri dikenal
luas sebagai ahli tarekat; meskipun tidak ada sumber yang menyebutkan kepada
siapa Mbah Kholil belajar Tarekat. Tapi, menurut sumber dari Martin Van
Bruinessen (1992), diyakini terdapat sebuah silsilah bahwa Mbah Kholil belajar
kepada Kyai ‘Abdul Adzim dari Bangkalan (salah satu ahli Tarekat Naqsyabandiyah
Muzhariyah). Tetapi, Martin masih ragu, apakah Mbah Kholil penganut Tarekat
tersebut atau tidak?
Masa hidup Mbah Kholil, tidak luput dari gejolak perlawanan
terhadap penjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Mbah Kholil melakukan
perlawanan.
Pertama: Ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam
bidang ini, Mbah Kholil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin
yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama
maupun bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang
lahir dari tangannya; salah satu diantaranya adalah KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri
Pesantren Tebu Ireng.
Kedua: Mbah Kholil tidak melakukan perlawanan secara
terbuka, melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini
tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan
batin, tenaga dalam) kepada pejuang. Mbah Kholil pun tidak keberatan pesantrennya
dijadikan tempat persembunyian.
Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Mbah Kholil ditangkap
dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Mbah Kholil,
malah membuat pusing pihak Belanda. Karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa
mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka
harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.
Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin
menjenguk dan memberi makanan kepada Mbah Kholil, bahkan banyak yang meminta
ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan
sekutunya merelakan Mbah Kholil untuk dibebaskan saja.
Mbah Kholil adalah seorang ulama yang benar-benar
bertanggung jawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam
dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam
suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya.
Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura seratus persen
memeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk
agama Kristiani. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekkah yang
telah berumur lanjut, tentunya Mbah Kholil tidak melibatkan diri dalam medan
perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok
pesantren yang diasaskannya.
Mbah Kholil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda
karena dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di
pondok pesantrennya. Beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaan lainnya
yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah
mendapat pendidikan dari Mbah Kholil.
Diantara sekian banyak murid Mbah Kholil yang cukup menonjol
dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah KH. Hasyim
Asy’ari (pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdlatul
Ulama/NU), KH. Abdul Wahab Chasbullah (pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras,
Jombang), KH. Bisri Syansuri (pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang), KH.
Ma’shum (pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda KH. Ali
Ma’shum), KH. Bisri Mustofa (pendiri Pondok Pesantren Rembang), dan KH. As’ad
Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Asembagus, Situbondo).
Karomah Mbah Kholil
Ulama besar yang digelar oleh para Kyai sebagai “Syaikhuna”
yakni guru kami, karena kebanyakan Kyai-Kyai dan pengasas pondok pesantren di
Jawa dan Madura pernah belajar dan nyantri dengan beliau. Pribadi yang
dimaksudkan ialah Mbah Kholil. Tentunya dari sosok seorang Ulama Besar seperti
Mbah Kholil mempunyai karomah.
Istilah karomah berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa
berarti mulia, Syeikh Thahir bin Shaleh Al-Jazairi dalam kitab Jawahirul
Kalamiyah mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada
seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang Nabi.
Adapun karomah Mbah Kholil diantaranya:
1. Membelah Diri
Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya
membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah
ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah
Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung
beliau basah kuyup,” Cerita KH. Ghozi.
Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau
menceritakan apa-apa. Langsung ngeloyor masuk rumah, ganti baju.
Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada
seorang nelayan sowan ke Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat
perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.
”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi
pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan
nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap
beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” Papar KH. Ghozi yang kini
tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.
2. Menyembuhkan Orang Lumpuh Seketika
Dalam buku yang berjudul “Tindak Lampah Romo Yai Syeikh
Ahmad Jauhari Umar” menerangkan bahwa Mbah Kholil Bangkalan termasuk salah satu
guru Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar yang mempunyai karomah luar biasa.
Diceritakan oleh penulis buku tersebut sebagai berikut:
“Suatu hari, ada seorang keturunan Cina sakit lumpuh,
padahal ia sudah dibawa ke Jakarta tepatnya di Betawi, namun belum juga sembuh.
Lalu ia mendengar bahwa di Madura ada orang sakti yang bisa menyembuhkan
penyakit. Kemudian pergilah ia ke Madura yakni ke Mbah Kholil untuk berobat. Ia
dibawa dengan menggunakan tandu oleh 4 orang, tak ketinggalan pula anak dan
istrinya ikut mengantar.
Di tengah perjalanan ia bertemu dengan orang Madura yang
dibopong karena sakit (kakinya kerobohan pohon). Lalu mereka sepakat pergi
bersama-sama berobat ke Mbah Kholil. Orang Madura berjalan di depan sebagai
penunjuk jalan. Kira-kira jarak kurang dari 20 meter dari rumah Mbah Kholil,
muncullah Mbah Kholil dalam rumahnya dengan membawa pedang seraya berkata:
“Mana orang itu?!! Biar saya bacok sekalian.”
Melihat hal tersebut, kedua orang sakit tersebut ketakutan
dan langsung lari tanpa ia sadari sedang sakit. Karena Mbah Kholil terus
mencari dan membentak-bentak mereka, akhirnya tanpa disadari, mereka sembuh.
Setelah Mbah Kholil wafat kedua orang tersebut sering ziarah ke makam beliau.
3. Kisah Pencuri Timun Tidak Bisa Duduk
Pada suatu hari petani timun di daerah Bangkalan sering
mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling.
Begitu peristiwa itu terus-menerus, akhirnya petani timun itu tidak sabar lagi.
Setelah bermusyawarah, maka diputuskan untuk sowan ke Mbah Kholil. Sesampainya
di rumah Mbah Kholil, sebagaimana biasanya Kyai tersebut sedang mengajarkan
kitab Nahwu. Kitab tersebut bernama Jurumiyah, suatu kitab tata bahasa Arab
tingkat pemula.
“Assalamu’alaikum, Kyai,” Ucap salam para petani serentak.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,“ Jawab Mbah
Kholil.
Melihat banyaknya petani yang datang. Mbah Kholil bertanya:
“Sampean ada keperluan, ya?”
“Benar, Kyai. Akhir-akhir ini ladang timun kami selalu
dicuri maling, kami mohon kepada Kyai penangkalnya,” Kata petani dengan nada
memohon penuh harap.
Ketika itu, kitab yang dikaji oleh Kyai kebetulan sampai
pada kalimat “qoma zaidun” yang artinya “zaid telah berdiri”. Lalu serta-merta
Mbah Kholil berbicara sambil menunjuk kepada huruf “qoma zaidun”.
“Ya.., Karena pengajian ini sampai ‘qoma zaidun’, ya ‘qoma
zaidun’ ini saja pakai sebagai penangkal,” Seru Kyai dengan tegas dan mantap.
“Sudah, Pak Kyai?” Ujar para petani dengan nada ragu dan
tanda tanya.
“Ya sudah,” Jawab Mbah Kholil menandaskan.
Mereka puas mendapatkan penangkal dari Mbah Kholil. Para
petani pulang ke rumah mereka masing-masing dengan keyakinan kemujaraban
penangkal dari Mbah Kholil.
Keesokan harinya, seperti biasanya petani ladang timun pergi
ke sawah masing-masing. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan di
hadapannya. Sejumlah pencuri timun berdiri terus-menerus tidak bisa duduk. Maka
tak ayal lagi, semua maling timun yang selama ini merajalela diketahui dan
dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat maling yang tidak
bisa duduk itu, semua upaya telah dilakukan, namun hasilnya sia-sia. Semua
maling tetap berdiri dengan muka pucat pasi karena ditonton orang yang semakin
lama semakin banyak.
Satu-satunya jalan agar para maling itu bisa duduk, maka
diputuskan wakil petani untuk sowan ke Mbah Kholil lagi. Tiba di kediaman Mbah
Kholil, utusan itu diberi obat penangkal. Begitu obat disentuhkan ke badan
maling yang sial itu, akhirnya dapat duduk seperti sedia kala. Dan para pencuri
itupun menyesal dan berjanji tidak akan mencuri lagi di ladang yang selama ini
menjadi sasaran empuk pencurian.
Maka sejak saat itu, petani timun di daerah Bangkalan
menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terima kasih kepada Mbah Kholil, mereka
menyerahkan hasil panenannya yaitu timun ke pondok pesantren berdokar-dokar. Sejak
itu, berhari-hari para santri di pondok kebanjiran timun, dan hampir-hampir di
seluruh pojok-pojok pondok pesantren dipenuhi dengan timun.
4. Kisah Ketinggalan Kapal Laut
Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu,
satu-satunya angkutan menuju Mekkah. Semua penumpang calon haji naik ke kapal
dan bersiap-siap, tiba-tiba seorang wanita berbicara kepada suaminya: “Pak,
tolong saya belikan anggur, saya ingin sekali,” Ucap istrinya dengan memelas.
“Baik, kalau begitu. Mumpung kapal belum berangkat, saya
akan turun mencari anggur,” Jawab suaminya sambil bergegas ke luar kapal.
Suaminya mencari anggur di sekitar ajungan kapal, nampaknya
tidak ditemui penjual buah anggur seorangpun. Akhirnya dicobanya masuk ke pasar
untuk memenuhi keinginan istrinya tercinta. Dan meski agak lama, toh akhirnya
anggur itu didapat juga. Betapa gembiranya sang suami mendapatkan buah anggur
itu. Dengan agak bergegas, dia segera kembali ke kapal untuk menemui isterinya.
Namun betapa terkejutnya setelah sampai ke ajungan, kapal yang akan ditumpangi
semakin lama semakin menjauh. Sedih sekali melihat kenyataan ini. Ia duduk
termenung tidak tahu apa yang mesti diperbuat.
Di saat duduk memikirkan nasibnya, tiba-tiba ada seorang
laki-laki datang menghampirinya. Dia memberikan nasihat: “Datanglah kamu kepada
Mbah Kholil Bangkalan, utarakan apa musibah yang menimpa dirimu!” Ucapnya
dengan tenang.
“Mbah Kholil?” Pikirnya. “Siapa dia, kenapa harus ke sana,
bisakah dia menolong ketinggalan saya dari kapal?” Begitu pertanyaan itu berputar-putar
di benaknya.
“Segeralah ke Mbah Kholil minta tolong padanya agar membantu
kesulitan yang kamu alami, insya Allah,” Lanjut orang itu menutup pembicaraan.
Tanpa pikir panjang lagi, berangkatlah sang suami yang
malang itu ke Bangkalan. Setibanya di kediaman Mbah Kholil, langsung disambut
dan ditanya: “Ada keperluan apa?”
Lalu suami yang malang itu menceritakan apa yang dialaminya
mulai awal hingga datang ke Mbah Kholil. Tiba-tiba Kyai itu berkata: “Lho, ini
bukan urusan saya, ini urusan pegawai pelabuhan. Sana pergi!”
Lalu suami itu kembali dengan tangan hampa. Sesampainya di
pelabuhan sang suami bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke
Mbah Kholil, lalu bertanya: ”Bagaimana, sudah bertemu Mbah Kholil?”
“Sudah, tapi saya disuruh ke petugas pelabuhan,” Katanya
dengan nada putus asa.
“Kembali lagi, temui Mbah Kholil!” Ucap orang yang
menasehati dengan tegas tanpa ragu.
Maka sang suami yang malang itupun kembali lagi ke Mbah
Kholil. Begitu dilakukannya sampai berulang kali. Baru setelah ketiga kalinya,
Mbah Kholil berucap: “Baik kalau begitu, karena sampeyan ingin sekali, saya
bantu sampeyan.”
“Terima kasih Kyai,” Kata sang suami melihat secercah harapan.
“Tapi ada syaratnya,” Ucap Mbah Kholil.
“Saya akan penuhi semua syaratnya,” Jawab orang itu dengan
sungguh-sungguh.
Lalu Mbah Kholil berpesan: “Setelah ini, kejadian apapun
yang dialami sampeyan jangan sampai diceritakan kepada orang lain, kecuali saya
sudah meninggal. Apakah sampeyan sanggup?” Seraya menatap tajam.
“Sanggup Kyai,“ Jawabnya spontan.
“Kalau begitu ambil dan pegang anggurmu pejamkan matamu
rapat-rapat,” Kata Mbah Kholil.
Lalu sang suami melaksanakan perintah Mbah Kholil dengan
patuh. Setelah beberapa menit berlalu dibuka matanya pelan-pelan. Betapa
terkejutnya dirinya sudah berada di atas kapal tadi yang sedang berjalan.
Takjub heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya.
Digosok-gosok matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi,
dirinya sedang berada di atas kapal. Segera ia temui istrinya di salah satu
ruang kapal.
“Ini anggurnya, dik. Saya beli anggur jauh sekali,” Dengan
senyum penuh arti seakan tidak pernah terjadi apa-apa dan seolah-olah datang
dari arah bawah kapal.
Padahal sebenarnya dia baru saja mengalami peristiwa yang
dahsyat sekali yang baru kali ini dialami selama hidupnya. Terbayang wajah Mbah
Kholil. Dia baru menyadarinya bahwa beberapa saat yang lalu, sebenarnya dia
baru saja berhadapan dengan seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar
biasa.
Biografi KH.Ali Shodiq Umman
Ditulis Oleh Unknown on Rabu, 05 November 2014 | 23.50
Ali Shodiq, demikian
nama aslinya. Lahir sekitar tahun 1929 M di dusun Gentengan lingkungan IV
kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung Jawa Timur.Ali Shodiq waktu itu lahir
dan tinggal bersama masyarakat Ngunut yang sangat minim akan pengetahuan agama.
Boleh dibilang, karena sangking tidak mengertinya tentang agama,
biasa disebut dengan istilah masyarakat abangan.
Ayah Ali Shodiq
bernama Pak Uman. Ia adalah kusir dokar yang hidup sederhana dan taat
beribadah. Ibu Ali Shodiq bernama Bu Marci. Pasangan suami istri ini datang
dari daerah beranama Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Mereka berdua sangat mendambakan seorang anak yang 'alim 'allamah dalam
hal agama. Sehingga, Pak Uman pun, sangat senang dan hormat pada setiap kyai
dan santri yang ia temui. Setiap kali ada santri yang menumpang dokar beliau,
beliau siap mengantarkannya kemanapun santri itu pergi, tanpa memungut upah
darinya.
Diasuh Paman Dari
Ibu
Ali Shodiq adalah
anak ke-7 dari 18 bersaudara. Namun yang hidup hingga dewasa adalah 10 orang.
Masing-masing adalah Intiamah, M. Syarif, Markatam, Abdul Syukur, Abdul Ghoni,
Umi Sulkah, Ali Shodiq, Amini, Khoirul Anam dan Marzuki. Sedang, yang 8 lainnya
wafat ketika masih kecil sehingga tidak jelas namanya.
Sejak umur sepasar (lima
hari), Ali Shodiq diasuh oleh paman beliau. Namaya Pak Tabut. Pak Tabut ini
merupakan masih adik dari Ibu Marci. Pak Tabut adalah seorang pedagang batik
dan pemborong palawija yang cukup mapan perekonomiannya. Beliau tinggal bersama
istrinya, Ibu Urip, dari Olak Alung, nama salah satu daerah di Ngunut, yang
konon dulu, daerah ini merupakan daerah basis PKI (Partai Komunis Indonesia),
tepatnya di jalan raya 1 No. 34 Ngunut, yang sekarang menjadi Pondok Pesantren
Hidayatul Mubtadiien Ngunut (PPHM-Ngunut) pusat.
Ali Shodiq sangat
disayang oleh Pak Tabut dan istrinya, Ibu Urip. Kebetulan, pasangan suami istri
ini tidak di karuniai seorang anakpun. Dalam momongan Pak Tabut pun, Ali Shodiq
hidup dalam kecukupan. Segala keinginan terpenuhi. Sejak itu pulalah, beliau
sangat suka dengan kuda. Namun, di balik itu semua, beliau, Ali Shodiq, yang
masih muda merasa prihatin dengan keadaan/kondisi masyarakat sekitar Ngunut
yang dalam pola hidupnya jauh dari nilai-nilai agama.
Hingga sejak kecil,
beliau Ali Shodiq, mulai belajar mengeja huruf-huruf Al Qur'an dan
cara-cara beribadah kepada Bapak Mahbub, di desa Kauman, Ngunut.
Setelah menamatkan
sekolah rakyat—dahulu tidak ada SD—Ali Shodiq kemudian mulai “mengembara” ilmu
dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Jika dihitung-hitung, pengembaraan
mencari ilmu beliau, kurang lebih selama 26 tahun. Di awali dari Pondok
Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Beliau di sini tidak begitu lama, kemudian
beliau nyantri ke Pondok Pesantren Jampes, Kediri, yang waktu itu diasuh oleh K.H.
Ihsan Dahlan.*
Sepeninggal Mbah Yai
Ihsan, Ali Shodiq kemudian pindah ke pesantren Lirboyo (PP Hidayatul
Mubtadiien), Kediri. Untuk bulan puasa, Ali Shodiq sering mondok di Pesantren
Treteg, Pare, Kediri, yang diasuh oleh K.H Juwaini dan pernah juga ke Pesantren
Mojosari, Nganjuk, asuhan K.H Zainuddin. Ali Shodiq juga pernah tabarukan(alap
berkah: mencari berkah karena dan untuk Allah kepada ulama’ / wali sepuh) ke
Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Asuhan romo K.H Hasyim Asy’ari (Salah
Satu Pendiri NU—Nahdlatul Ulama’) dan pada K.H Ma'ruf , Kedoglo, Kediri.
Sewaktu beliau, Ali
Shodiq, masih nyantri di Pesantren Jampes, Kediri, beliau meminta kepada ibu
angkat beliau, Mbah Urip, untuk mendirikan sebuah langgar (mushola.red)
kecil di rumahnya, yang kelak kemudian menjadi cikal bakal berdirinya
Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut (PPHM-Ngunut).
Dari Lirboyo
Menuju ke Pelaminan
Menurut Mbah K.H
Ihsan (Pengasuh Pondok Pesantren Abul Faidl, Bakalan, Wonodadi, Blitar) setelah
K.H Ihsan Jampes wafat sekitar tahun 1952, Ali Shodiq pindah ke Pesantren
Lirboyo yang waktu itu masih diasuh oleh K.H Abdul Karim. Waktu Ali Shodiq
mondok di sinilah, ada peristiwa yang penting, yakni sekitar tahun 1958, ada
seorang Kyai dari Mbaran, Kediri, K.H Umar Sufyan yang mencari beliau untuk
dinikahkan.
Ali Shodiq waktu
itu, karena sami’na wa ‘atho’na dengan guru, beliau mau saja untuk
dijodohkan. Tak disangka, rupanya beliau dijodohkan oleh putri kandung dari KH.
Umar Sufyan sendiri, yakni Auliyah (setelah ibadah haji di ganti menjadi
Hj.Siti Fatimatuzzahro'). Padahal, Auliyah ini, waktu itu masih berumur 7
tahun. Namun, akad nikahpun akhirnya tetap dilaksanakan secara sederhana.
Hari bahagia nan
penuh berkah, akad nikah seorang calon kyai dengan putri seorang kyai pun
berlangsung jua. Dengan diantar beberapa santri Lirboyo, beliau berangkat dari
Pondok Pesantren (ponpes) Lirboyo menuju Mbaran, Kediri.
Ali Shodiq,
Santri Yang Tekun
Di mata kawan sesama
santri, termasuk KH. Mushtofa Bisri (Gus Mus), Ali Shodiq muda dikenal sebagai
santri yang tekun, cerdas dan sangat ta'dzim (hormat) kepada
guru-guru beliau. Hingga beliau menjadi Kyai kharismatik di wilayah Tulungagung
pun, beliau masih ta'dzim kepada dzuhrriyah (keluarga.red)
guru-gurunya. Meski mereka sudah berada di alam kubur, namun Ali Shodiq bahkan
ketika sowan-ziyarah ke makam guru-guru beliau pun, selalu melepas sandal dan
berjalan jongkok.
Ali Shodiq juga
dikenal ketika setiap kali mbalah (mengaji kitab.red) selalu mencari waktu yang
tidak bersamaan dengan qori' atau pengkaji yang lain, yaitu di atas jam 12.00
malam. Bertempat di panggung lama atau di Al-Ikhwan (nama tempat. red). Beliau
tahu betul, jika pengajian dilakukan secara bersamaan, maka qori’ yang lain
akan sepi pengikut.
Ali Shodiq juga di
kenal sebagai Ahli Tahqiq, sebab setiap kali akan mbalah, jika belum memahami
apa yang akan dikaji, beliau tidak jadi melakukan dan menunggu sampai faham
betul terhadap hal-hal yang akan dikaji oleh beliau tersebut. Juga, beliau
sering mengikuti satu kitab secara berulang-ulang, dengan setiap ikut kitabnya
selalu baru.
Menurut Pak Ghufron,
salah seorang teman sekaligus santri beliau, ketekunan Ali Shodiq ini sulit
digambarkan, sehingga tidak pernah diketahui kapan beliau tidur. Seakan-akan
waktu hanya dicurahkan untuk mathala'ah (belajar.red) yang bahkan beliau
sering ketiduran dalam keadaan mathala'ah tersebut.
Kesibukan Ali Shodiq
selain mbalah, beliau juga menyoroki (mengajarkan membaca.red) Al Qur'an kepada
para santri-santrinya. Cukup sederhana, beliau menyoroki hanya bertempat di
kamar beliau sehabis jama'ah maghrib sampai lonceng sekolah malam berbunyi.
Hari-hari senantiasa
beliau dilewati dengan berpuasa. Dan beliau juga seorang qona'ah, terbukti
dengan makan beliau sedikit dan seadanya sesuai dengan yang disajikan oleh juru
masak beliau. Sampai-sampai dalam akivitas sehari-seharinya, beliau memakai bengkungan
di perut yang sangat kencang, dikarenakan sedikitnya makan, meski menurut
beliau, ia sering juga diberi uang saku oleh keluarga
Satu hal lagi yang
menunjukan ketekunan dan himmah beliau dalam tholabul ‘ilmi adalah meski beliau
sudah menikah, tapi beliau tetap mukim di ponpes Lirboyo, sebab di samping
untuk memperdalam ilmu tenaga dan fikiran, beliau masih diperlukan di sana. Ali
Shodiq bahkan pernah menjadi kepala Ponpes Lirboyo, waktu itu. Hanya saja, jika
memasuki bulan Ramadlan, beliau mengadakan pengajian pasan di Mbaran, Kediri,
rumah mertua beliau.
Sekitar tahun 1958,
pengajian pasan pertama yang diadakan di Mbaran diikuti oleh 7 orang santri
Lirboyo. Dan pada tahun berikutnya, diikuti oleh 40 santri. Hal ini berlangsung
selama beberapa tahun hingga tahun 1966. Selama itu pula, beliau telah
menamatkan kitab Sirojut Tholibin buah karya K.H Ihsan Jampes, Kediri, yang
merupakan guru beliau sendiri dan beberapa kitab kuning lain karya ulama
terkenal lainya.
Ada fakta menarik,
yaitu beliau, Ali Shodiq Umman, karena sangking sukanya akan ilmu dan baca
kitab kuning, beliau pernah membaca kitab Muhadzdzab, yang khatamnya jatuh
bertepatan pada tanggal 1 Syawal, pukul 1 siang.
Mendirikan Pondok
Pesantren
Pada tahun 1967, Ali
Shodiq Umman dengan berat hati pindah ke Ngunut, Tulungagung, meninggalkan
Mbaran untuk mengemban amanat dan tugas dari guru beliau sewaktu nyantri di
Lirboyo, yakni K.H Marzuqi Dahlan dan K.H Mahrus Ali. Waktu itu, guru beliau
itu meminta agar Ali Shodiq mengembangkan ilmunya dan mendidik langsung
masyarakat Ngunut yang waktu itu masih belum mengenal ajaran Islam (abangan).
Pada masa perintisan
aktivitas dakwah, Ali Shodiq dipusatkan di sebuah langgar (mushola.red)
kecil yang telah didirikan Pak Tabut—Langgar ini kemudian dijadikan
pesantren Ngunut. Di samping itu, Ali Shodiq juga ikut mengajar di PGA Ngunut
(sekarang berubah nama menjadi SMP Negeri 1 Ngunut).
Tantangan dan
rintangan datang silih berganti, terutama dari masyarakat sekitar yang masih
buta agama. Teror fisik atau teror yang bersifat non fisik atau rohani (seperti
jengges dan santet) tak henti-henti berdatangan. Tetapi dengan penuh kesabaran,
beliau Ali Shodiq, tetap menyiarkan agama Allah.
Bukti kesabaran
beliau terlintas dalam sebuah kejadian. Waktu itu, pesantren Ngunut sedang
mengadakan sebuah acara. Acara itu dihadiri langsung oleh guru beliau, KH.
Mahrus Ali Lirboyo. Kejadian itu bermula saat guru beliau, KH. Mahrus Ali,
sedang berkenan ke kamar kecil. Ketika melintas, menuju ke kamar kecil, Mbah
KH. Mahrus Ali melihat masyarakat di sekitar pesantren Ngunut banyak yang
mengganggu acara tersebut. Mereka mengusik dengan santet, mengganggu jalannya
pengajian para santri, lantas kemudian, Mbah KH. Mahrus Ali berkata.
“Mbok dihizib nashor
wae, ben ndang bar.” (Sebaiknya di-hizib nashor—semacam didoa-wiridkan—agar
mereka tidak mengganggu lagi).
Namun, apa jawab Ali
Shodiq?...
“Ingkang kawulo
rantos anak putu nipun, Yi" (Yang saya tunggu anak cucu mereka, Yai)
Dialog antara Ali
Shodiq dengan gurunya, KH. Mahrus Ali, di atas membuktikan bahwa, Ali Shodiq
ingin tetap memperjuangkan agama Allah. Meski banyak masyakarat di sekitarnya
yang tidak suka dengan dakwah beliau, tapi beliau tetap sabar, mengunggu anak
cucu masyakaratnya agar kelak, mau diajak masuk Islam.
Dengan diikuti 50
santri dari Lirboyo, pengajian pasan (pengajian pada bulan puasa) pertama di
laksanakan dengan penuh hidmah (khusu’. red). Hingga 4 tahun kemudian beliau
berhasil menamatkan kitab 'Ihya Ulumuddin buah karya Hujjatul Islam
Imam Ghozali.
Pada bulan Syawal di
tahun yang sama, pengajian sistem klasikal dan non klasikal mulai di terapkan,
meski dengan materi pelajaran yang masih sangat sederhana—sesuai dengan
kemampuan santri yang ada. Pada tahun berikutnya, jumlah santri di pesantren
Ngunut bertambah, terutama santri senior Lirboyo dan dari daerah Ngunut dan
sekitarnya.
Melihat jumlah
santri di pesantrennya kian hari semakin meningkat, maka K.H Ali Shodiq
menetapkan tanggal 1 Januari 1967, bertepatan dengan tanggal 21 Rajab 1368 H,
dijadikan sebagai hari berdirinya Pondok Pesantren HIDAYATUL MUBTADIIEN Ngunut,
sebuah nama yang diambil dari Ponpes Lirboyo, dengan niat tafa'ulan (ngalap
ketularan: biar tertular barokahnya.red). Sejak saat itulah, sistem pendidikan
di Ponpes Hidayatul Mubtadiien ini mulai ditata dan bisa berjalan sampai
sekarang.
Tingkatan pendidikan
pun mulai ditata di pondok Mbah Ali—sebutan untuk pesantren Ngunut ini. Jenjang
pendidikan di bagi menjadi dua tingkatan, ibtida'iyah (dasar) dan
tsanawiyah (menengah).
Waktu pun terus
berjalan. Zaman semakin berkembang. Ilmu dan pengetahuan pun semakin canggih,
namun di lain fihak dengan perkembangan ini, timbul pergeseran nilai dalam
kehidupan masyarakt. Untuk itu, dibutuhkan generesi Islam yang intelek dan
berwawasan luas. Hal itu kemudian yang membuat KH. Ali Shodiq Umman disamping
mengembangkan lembaga pendidikan agama yang sudah ada, beliau juga mendirikan
pondok kanak-kanak dengan pendidikan formal Sekolah Dasar Islam (SDI) Sunan
Giri berlokasi di Asrama Putri dan Kanak-kanak Sunan Giri, Sekolah
Menengah Pertama Islam (SMPI) Sunan Gunung Jati berlokasi di Asrama Putra Sunan
Gunung Jati (untuk santri laki-laki) dan Asrama Putri Sunan Pandanaran (untuk
santri putri). Hingga akhirnya karena perkembangan IPTEK semakin pesat dan tak
dapat dibendung, KH. Ali Shodiq Umman, dengan dibantu oleh para
santri-santrinya, ikut mendirikan SMA Islam Sunan Gunung Jati. Langkah ini yang
diambil K.H Ali Shodiq Umman ini lantas mendapat sambutan hangat dari
masyarakat. Terbukti semakin banyak masyarakat yang menyekolahkan dan
memondokkan putra-putrinya di lembaga yang di asuh oleh beliau ini.
Begitulah perjuangan
beliau yang tak kenal lelah, guna mempersiapkan generasi-generasi muslim yang
menghadapi tantangan zaman. Bukan hanya pendidikan saja yang beliau perhatikan,
namun dalam tuntunan hidup sehari-hari pun, beliau juga sering memberikan
mau'idzoh hasanah, dengan tutur bahasa yang khas.
"Cho neng
ngendi wae awakmu manggon, ojo lali karo pesenku: (1) Akhlaqul Karimah, (2)
Pinter-Pinter Ndelehno Awak, (3) Ngekeh-Ngekehno Bali Mari Allah. Fafiru
illallah…”
Pesan itu selalu
beliau sampaikan setiap kali selesai mengaji kitab bersama santri-santrinya.
Beliau yang juga
dikenal sangat sabar dan istiqomah dalam mendidik santri-santrinya, setiap pagi
selalu dengan halus membangunkan santri-santi beliau. Dari satu kamar menuju ke
kamar lainnya.
“Tangi cho, sholat
jama'ah shubuh.”
Beliau paham betul
bahwa, membina santri-santri adalah tugas moral untuk mengabdikan kepada
masyakarat. Lebih-lebih untuk menekankan sholat jama'ah.
Sholat Jama'ah
dengan Di Papah
Setelah menunaikan
ibadah haji yang ke tiga kali, tahun 1997 kondisi kesehatan K.H Ali Shodiq
Umman sering terganggu. Maklum, usia beliau mulai beranjak sepuh.
Sementara tugas
sebagai pengasuh yang kian berkembang pesat cukup menyita waktu tenaga dan
fikiran beliau. Akan tetapi yang cukup menyedihkan kesehatan kyai mulai
menurun, sehingga kaki beliau tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga
untuk menjalankan tugas sehari-harinya: memberi pengajian, menjadi imam sholat
jama'ah, beliau harus dipapah oleh satu atau dua orang santri.
Akan tetapi berkat
kesabarannya, hari-hari beliau yang panjang itu dilalui dengan tabah, malahan
beliau tidak pernah meninggalkan tugas yang beliau emban. Beliau tetap mengabdi
untuk umat, tetap mengisi pengajian seperti biasa.
Sabtu Kelabu
Pada hari jum'at 23
Juli 1999, K.H Ali Shodiq Umman jatuh sakit. Cukup parah. Beliau kemudian
dibawa ke RSI ORPEHA Tulungagung. Beliau dirawat di Pavilium Arafat. Perawatan
intensif terus menerus dilakukan, namun keadaan pun tak semakin membaik.
Akhirnya atas kesepakatan keluarga dan saran dari pihak kedokteran RSI ORPEHA,
pada Rabu 10 Agustus 1999, beliau dibawa ke RS. DARMO Surabaya. Selama 4 hari
beliau menjalani opname di rumah sakti Surabaya itu. Namun kondisi beliau pun
tak kunjung membaik.
Perawatan pun tetap
terus berjalan. Namun, harapan untuk kesembuhannya pun kian menipis, hingga
pada hari Sabtu, 14 Agustus 1999, sekitar pukul 10.00 wib (pagi) Allah swt,
telah menggariskan untuk memanggil beliau.
K.H Ali Shodiq Umman
wafat. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un….
Beliau wafat pada
usia 71 tahun dengan meninggalkan seorang istri (yang pada akhirnya 7 bulan
kemudian menyusul, 9 putra putri (6 pitra dan 3 putri), serta 12 cucu laki-laki
dan perempuan.
Berita wafatnya K.H
Ali Shodiq Umman diterima keluarga di Ngunut pukul 11.00 pagi lewat telfon. 30
menit kemudian, orang-orang yang melayat mulai berdatangan. Mereka menuggu
kedatangan jenazah K.H Ali Shodiq Umman sambil berdzikir, jenazah tiba di
Ngunut pukul 16.00 BBWI.
Keesokan harinya
(Ahad) pukul 10.00 BBWI, setelah dilakukan sholat jenazah sebanyak 47 kali,
lalu jenazah beliau dimakamkan di makam keluarga, sebelah barat Masjid Sunan
Gunung Jati, asrama saya.
Sampai di liang
lahat, jenazah beliau disambut oleh menantu beliau KH. Darori Mukmin, KH.
Mahrus Maryani, dengan disertai putra beliau KH. Badrul Huda Ali, KH. Ibnu
Shodiq Ali, KH. Minanurrohman Ali, serta KH. Minanurrohim Ali.
Jasad beliau pergi
meninggalkan kita untuk selama-lamanya, menggoreskan kenangan, meninggalkan sebongkah
jasa untuk kita, untuk saya, dan untuk santri-santrinya, beliau menuju alam
damai dan abadi.
Langganan:
Postingan (Atom)


